Sangat tertarik untuk membahas film Habibie & Ainun dan membandingkannya dengan kehidupan yang saya alami. Di Indonesia.
Ketika ada anak yang baru terlahir.. Atau yang sedang berulang tahun, tak jarang kita mendoakan "semoga menjadi anak yang berguna bagi Nusa dan Bangsa Indonesia". Apakah doa itu hanya sekedar lantunan doa? Ataukah ada perjuangan kita untuk mewujudkan doa tersebut menjadi nyata seperti yang dialami oleh Habibie?
Melihat perjuangan Habibie dalam membangun Negara Indonesia untuk "mampu" menciptakan pesawat terbang sendiri, dan bandingkan dengan pemuda - pemudi sekarang (mungkin dahulu tidak / Jaman Soekarno).
Masih kah kita akan duduk berpangku tangan melihat apa yang terjadi namun tidak ikut berperan dalam perubahan?
*btw, ini kenapa jadi kayak trainer motivasi gini yah blog nya???*
Terlihat jelas bahwa Habibie dan Ainun adalah siswa yang cerdas saat duduk di bangku sekolah. Entah bagaimana pola asuh keluarga mereka yang menjadikan mereka begitu cerdas. Dan kemudian tumbuh menjadi pemuda - pemudi yang genius.
Sedangkan kita? (mungkin hanya saya?). Melihat sebagian remaja, pemuda, bahkan yang sudah tidak bisa di katakan sebagai pemuda, seringkali menyia-nyiakan waktu nya untuk hal-hal yang tidak berguna. Begitu terhipnotis warga Indonesia dengan pengaruh budaya luar, seperti film korea, kehidupan sosialita yang mewah, fans dengan artis-artis karena ketampanan atau kecantikannya, dengan berbagai hal yang membuat waktu terbuang percuma.
Dan hanya menuntut keadilan.
Bagaimana negara ini bisa adil kalau penduduknya tidak adil dan tidak mendukung negaranya?
Saya sendiri, merasa kurang.. Sangat kurang.. Dan seandainya waktu berputar 42 jam setiap harinya.. Dapatkah kita menjadi secerdas Habibie?






0 komentar:
Posting Komentar