Setiap harinya aku harus menempuh perjalanan 2 jam, dari dalam kota bekasi hingga luar kota, Jakarta? yaa, Jakarta..yang sebagian besar orang menganggapnya sebagai pusat pencarian kerja, namun bagiku? entahlah! Perjalanan ini ku tempuh untuk mendapatkan sedikit kuliah di kampusku yang berlokasi tepat di pusat Jakarta. Kadang tepat waktu, kadang telat hingga dosen melarangku untuk memasuki kelasnya. Kejam sekali rasanya, mengingat jerih payah seorang mahasiswa yang bangun di pagi buta, berangkat setelah waktu subuh, namun...apa yang diperjuangkan tidak bisa diraih hanya karena telat 10 menit.
Ingin sekali rasanya aku sejenak menikmati waktu subuh di Jakarta, di pusat tujuan kebanyakan orang, kebanyakan orang yang bagiku hanya akan memperburuk Jakarta. Bagaikan sampah! Aku pikir waktu subuh di Jakarta sama dengan waktu subuh di rumahku, sepi, hanya Masjid saja yang ramai. Namun ini tidak. Kalau saja aku memiliki kamera bagus yang mudah dibawa, pasti akan aku dokumentasikan segala kesampahan yang ada di kota pusat pencarian orang ini. Huh! Apa yang membuat orang-orang menjadikan ini pusat kota?? Apa karna Jakarta adalah Ibu Negara? Enyahlah segera kalian yang mengatakan seperti itu!
Kadang aku merasa sedikit beruntung dilahirkan didaerah yang dekat dengan pusat Jakarta. Melihat kanan-kiri jalan menuju Jakarta pasti ada hal-hal menarik yang selalu menjadi bahan pembicaraan di kepalaku. Mulai dari pengemis.. pengemis yang gembel, atau mungkin dia orang gila? lusuh sekali..sampai aku tidak dapat membedakannya, banyak pula anak-anak kecil yang menjadi pengamen jalanan.. Menyanyikan lagu-lagu kebangsaan pengamen.. kalian tau?? lagunya seperti ini..
Coba kalian perhatikan sejenak, pakaian yang dipakai pengamen tersebut. Layak! sangat layak dan bagus..bahkan mungkin aku lebih gembel dari mereka. Jakarta menjadikan "Pengamen" sebagai profesi, dengan gaji kira-kira Rp.50.000 /Hari. Dalam setiap situai mereka manfaatkan, bahkan disaat orang lengah..apa yang ada dalam genggaman sekejap hilang, yaitu handphone. Untungnya hp-ku buruk, tak laku dijual..kalau ada pengamen yang bersedia mencuri hp-ku akan aku ucapkan terimakasih banyak, karena dengan begitu..tak lama hp-ku akan tergantikan dengan yang baru dan lebih komunikatif. Namun itu hanyalah mimpi, mimpi seorang mahasiswa.
Gedung-gedung pusat komunikasi pun banyak terdapat di Jakarta, ada kantor pusat channel-channel tv, kantor pusat koran-koran terkenal seperti komp*as, kantor hukum, kantor pajak, kantor kementrian, kantor departemen-departemen kenegaraan, dan lain sebagainya. Pantas saja mereka mengidamkan Jakarta untuk mencari pekerjaan. Ini kah yang mereka cari?.Terkadang pun aku tergiur dengan kemegahan yang ada, tergiur untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lumayan untuk sekedar tambahanku membeli laptop ringan dan hp. Namun aku kembali mengingat tugas skripsiku, ah nanti sajalah kerjanya.. Aku akui Jakarta sangat komunikatif. Hingga kecelakaan kecil dipusat kota Jakarta bisa tersebar ke-seantero Indonesia dalam hitungan detik, menandakan Jakarta adalah kota iptek.
Aku lebih berharap orang-orang Jakarta memiliki tingkat stress yang tinggi, hingga kematian karena bunuh diri meningkat tajam. Dengan begitu Jakarta akan bebas dari kemacetan dan mungkin sedikit bebas dari kejahatan. Namun sayangnya, kota Jakarta dihuni oleh orang-orang bermotivasi tinggi dan orang-orang yang sering minder, hingga semua ini menjadi sesuai, sesuai dengan apa kata pepatah "yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin". Hal itulah yang selalu berputar-putar dalam kehidupan Jakarta, orang kaya menindas orang miskin, orang miskin tertindas dan mengemis ke orang kaya, orang kaya dihadapan pengemis menjadi angkuh, namun orang miskin semakin mencari-cari orang kaya berharap kecipratan kaya. Hingga Jakarta penuh dengan kemunafikan, penuh dengan sampah masyarakat!
Namun Jakarta tak selamanya kejam bagiku. Hari ini aku pulang berkendara angkutan umum dengan sejumlah penumpang yang juga memakai kerudung sepertihalnya diriku. Saat adzan magrib berkumandang ditengah kemacetan Jakarta, supir yang mengendarai angkutan umum segera menoleh kebelakang, kearah penumpang dan mengatakan "yuk yang puasa buka dulu, kita mampir dulu beli minum", ada juga ternyata orang baik. Ibuku selalu memberitau bahwa Jakarta itu kejam, tak ada orang baik didalamnya, tak ada yang dapat di percaya, semua memiliki ambisi untuk membela dirinya masing-masing dan akan mencampakkan kebutuhan orang lain. Namun ternyata salah, atau mungkin karena aku hanyalah mahasiswa yang belum tau A-Z kota Jakarta..
Mungkin berbeda dengan daerah lain. Atau mungkin sangat berbeda. Di Jakarta aku bisa melihat polisi dengan pentungan cikrak, atau pentungan dari bambu yang panjangnya sekitar satu meter. Polisi itu mengatur barisan di terminal, terminal yang amat gaduh! Aku lihat polisi itu berteriak-teriak sambil mementungkan pentungannya ke mobil-mobil kendaraan umum, keren sekali gayanya, haha. Ini biasa terjadi di Jakarta, mungkinkah disebagian daerah lain juga ada polisi pentungan?. Aku terkesima, memperhatikan gayanya, memperhatikan teriakan kasarnya, memperhatikan betapa tidak pedulinya dia terhadap asap dan debu dari kendaraan yang sebenarnya amat berbahaya bagi fisiknya. Hingga aku terbuai dalam lamunan dan... TUNG..!! pentungan itu dipukulkan ke mobil yang aku duduki. Sedikit kaget dan rasanya sangat kesal mendengar pentungan tersebut yang mewakilkan amarah polisi agar kendaraan segera merapikan barisan. Mataku tertuju padanya dengan sinis, dan akhirnya kami saling melihat cukup lama. Entah apa yang ia pikirkan saat itu, matanya pun sinis, mungkin heran dengan tatapanku yang sinis. Tapi segera ia akhiri dan kembali mementungkan pentungannya kearah mobil-mobil lainnya, haha..
Rasanya amat berbeda ketika aku menjelajahi Bali, lebih tepatnya Denpasar, sebagai pusat kotanya. Jalan-jalan sangat teratur, bahkan pengendara sepeda memiliki jalur khusus. Polisi tidak tampak begitu banyak kecuali saat hari perayaan dan upacara keagamaan, itu pun tanpa pentungan.
Jakarta memiliki berbagai keanehan, termasuk keanehan sifat-sifat penduduknya. Ada orang yang senang sekali memanfaatkan orang lain, walaupun sudah ketauan dan temannya merasa tak senang, namun tetap ia pertahankan sifatnya itu. Ada orang-orang yang senang dengan pornografi (maaf jika anda menganggap hal ini tidak baik untuk di tulis), dan dengan sengaja memamerkan alat vitalnya ditempat keramaian, yaaa itu namanya penyakit, kalau tidak salah namanya exibisionis. Jadi teringat beberapa pelecehan yang pernah aku alami di Jakarta, tepatnya di dalam Busw*y, ketika ingin memasuki bus tak terasa ada tangan lelaki menyelinap diantara tangan kiri dan pinggangku, ckck entah mau nyopet atau apa aku tidak begitu mengerti, pernah juga ada lelaki tinggi yang mengantri di belakangku, mepet.. sangat mepet.. aku langsung dapat membaca maksudnya dan langsung saja aku berpindah posisi agar niatnya tidak tersalurkan, Jahat! Masih banyak hal lain, namun aku begitu malas membicarakan kendaraan satu ini karena begitu banyak kasus kejahatan didalamnya.
Ada juga orang yang memiliki motivasi tinggi, sangat menggebu-gebu, membuat orang disekelilingnya heran. Heran dengan semangat 45' yang selalu ia pancarkan. Entah apa maksudnya, aku capai melihat tingkah orang seperti itu. Ada juga orang dengan pesimis yang luar biasa, segala hal yang ia kerjakan butuh bantuan orang tuanya, mulai dari tugas, membeli majalah, keputusan dan lain sebagainya, padahal usianya sudah berkepala dua, aku tak mau menyebutkan nama, takut ada yang tersinggung. Beda sekali dengan diriku, aku malas tergantung dengan orang tua.. Mereka membuat segala kebutuhanku yang terpenuhi menjadi sebuah beban. yaaa..beban moral, beban mental, beban materi. Aku dan dia tampak seperti tanah dan langit.
Dan juga keanehan-keanehan lainnya yang tidak aku spesialkan dalam postingan kali ini, atau mungkin sebagian orang disana menganggapku aneh? atau mengidolakan aku? haha, mana mungkin! Jika kalian kenal aku di kampus, pastilah kalian tau betapa gembelnya aku. Aku hanya ingin kenyamanan, bukan penampilan.
Jakarta semakin banyak perubahan. terutama di pusat. RS.CM yang terkenal itu.. hilang, aah bodoh sekali aku mengatakannya hilang! Tidak hilang, namun sedang dalam tahap pembangunan. huh! norak sekali. Banyak gedung-gedung baru..yang aku tidak apal apa nama gedungnya. Hanya beberapa bulan dan taraaaa.. bangunan itu sudah berdiri kokoh.
Itulah sedikit ulasan tentang Jakarta, masih terdapat hal-hal lain yang tidak terpintas dalam pikiranku sehingga aku tidak dapat menuangkannya disini. Jika nanti aku sudah memiliki booklet microsoft courier pasti akan aku update setiap ide ku muncul, meskipun itu dalam perjalanan, atau dalam kamar mandi sekalipun, haha daydreaming!
Namun Jakarta tak selamanya kejam bagiku. Hari ini aku pulang berkendara angkutan umum dengan sejumlah penumpang yang juga memakai kerudung sepertihalnya diriku. Saat adzan magrib berkumandang ditengah kemacetan Jakarta, supir yang mengendarai angkutan umum segera menoleh kebelakang, kearah penumpang dan mengatakan "yuk yang puasa buka dulu, kita mampir dulu beli minum", ada juga ternyata orang baik. Ibuku selalu memberitau bahwa Jakarta itu kejam, tak ada orang baik didalamnya, tak ada yang dapat di percaya, semua memiliki ambisi untuk membela dirinya masing-masing dan akan mencampakkan kebutuhan orang lain. Namun ternyata salah, atau mungkin karena aku hanyalah mahasiswa yang belum tau A-Z kota Jakarta..
Mungkin berbeda dengan daerah lain. Atau mungkin sangat berbeda. Di Jakarta aku bisa melihat polisi dengan pentungan cikrak, atau pentungan dari bambu yang panjangnya sekitar satu meter. Polisi itu mengatur barisan di terminal, terminal yang amat gaduh! Aku lihat polisi itu berteriak-teriak sambil mementungkan pentungannya ke mobil-mobil kendaraan umum, keren sekali gayanya, haha. Ini biasa terjadi di Jakarta, mungkinkah disebagian daerah lain juga ada polisi pentungan?. Aku terkesima, memperhatikan gayanya, memperhatikan teriakan kasarnya, memperhatikan betapa tidak pedulinya dia terhadap asap dan debu dari kendaraan yang sebenarnya amat berbahaya bagi fisiknya. Hingga aku terbuai dalam lamunan dan... TUNG..!! pentungan itu dipukulkan ke mobil yang aku duduki. Sedikit kaget dan rasanya sangat kesal mendengar pentungan tersebut yang mewakilkan amarah polisi agar kendaraan segera merapikan barisan. Mataku tertuju padanya dengan sinis, dan akhirnya kami saling melihat cukup lama. Entah apa yang ia pikirkan saat itu, matanya pun sinis, mungkin heran dengan tatapanku yang sinis. Tapi segera ia akhiri dan kembali mementungkan pentungannya kearah mobil-mobil lainnya, haha..
Rasanya amat berbeda ketika aku menjelajahi Bali, lebih tepatnya Denpasar, sebagai pusat kotanya. Jalan-jalan sangat teratur, bahkan pengendara sepeda memiliki jalur khusus. Polisi tidak tampak begitu banyak kecuali saat hari perayaan dan upacara keagamaan, itu pun tanpa pentungan.
Jakarta memiliki berbagai keanehan, termasuk keanehan sifat-sifat penduduknya. Ada orang yang senang sekali memanfaatkan orang lain, walaupun sudah ketauan dan temannya merasa tak senang, namun tetap ia pertahankan sifatnya itu. Ada orang-orang yang senang dengan pornografi (maaf jika anda menganggap hal ini tidak baik untuk di tulis), dan dengan sengaja memamerkan alat vitalnya ditempat keramaian, yaaa itu namanya penyakit, kalau tidak salah namanya exibisionis. Jadi teringat beberapa pelecehan yang pernah aku alami di Jakarta, tepatnya di dalam Busw*y, ketika ingin memasuki bus tak terasa ada tangan lelaki menyelinap diantara tangan kiri dan pinggangku, ckck entah mau nyopet atau apa aku tidak begitu mengerti, pernah juga ada lelaki tinggi yang mengantri di belakangku, mepet.. sangat mepet.. aku langsung dapat membaca maksudnya dan langsung saja aku berpindah posisi agar niatnya tidak tersalurkan, Jahat! Masih banyak hal lain, namun aku begitu malas membicarakan kendaraan satu ini karena begitu banyak kasus kejahatan didalamnya.
Ada juga orang yang memiliki motivasi tinggi, sangat menggebu-gebu, membuat orang disekelilingnya heran. Heran dengan semangat 45' yang selalu ia pancarkan. Entah apa maksudnya, aku capai melihat tingkah orang seperti itu. Ada juga orang dengan pesimis yang luar biasa, segala hal yang ia kerjakan butuh bantuan orang tuanya, mulai dari tugas, membeli majalah, keputusan dan lain sebagainya, padahal usianya sudah berkepala dua, aku tak mau menyebutkan nama, takut ada yang tersinggung. Beda sekali dengan diriku, aku malas tergantung dengan orang tua.. Mereka membuat segala kebutuhanku yang terpenuhi menjadi sebuah beban. yaaa..beban moral, beban mental, beban materi. Aku dan dia tampak seperti tanah dan langit.
Dan juga keanehan-keanehan lainnya yang tidak aku spesialkan dalam postingan kali ini, atau mungkin sebagian orang disana menganggapku aneh? atau mengidolakan aku? haha, mana mungkin! Jika kalian kenal aku di kampus, pastilah kalian tau betapa gembelnya aku. Aku hanya ingin kenyamanan, bukan penampilan.
Jakarta semakin banyak perubahan. terutama di pusat. RS.CM yang terkenal itu.. hilang, aah bodoh sekali aku mengatakannya hilang! Tidak hilang, namun sedang dalam tahap pembangunan. huh! norak sekali. Banyak gedung-gedung baru..yang aku tidak apal apa nama gedungnya. Hanya beberapa bulan dan taraaaa.. bangunan itu sudah berdiri kokoh.
Itulah sedikit ulasan tentang Jakarta, masih terdapat hal-hal lain yang tidak terpintas dalam pikiranku sehingga aku tidak dapat menuangkannya disini. Jika nanti aku sudah memiliki booklet microsoft courier pasti akan aku update setiap ide ku muncul, meskipun itu dalam perjalanan, atau dalam kamar mandi sekalipun, haha daydreaming!






0 komentar:
Posting Komentar