BERJILBAB itu HATI dulu atau FISIK dulu?

sedikit sulit ternyata untuk memposting blog dengan judul seperti ini, udah 3 kali ngetik tapi saya apus lagi, hahaha... oke! saya akan berbicara sedikit, sangat gamblang, dan ga pake basa-basi kayak rencana awal yang ternyata kurang enak di baca. Ini tentang pemakaian jilbab, kawan... jilbab! kamu tau jilbab kan?? aku juga tau, tapi masih aja sering buka tutup meskitpun itu kewajiban umat muslim 29.gif.
penulis baru baru ini membaca postingan status di jejaring sosial mengenai pemakaian jilbab, kalo ga salah statusnya seperti ini "pengen pake jilbab deh, tapi hati aja belum di jilbapin", 4.gifmaaf ya kalo empunya status baca posting saya ini, bukan maksud menyindir tapi status anda menggugah hati saya untuk memaparkan mengenai hal tersebut.. Jika kita pikir lebih jauh, lebih sulit mana menjilbabi hati atau fisik? tentu jawabannya lebih sulit hati.

Kenapa? karena menjilbabi hati adalah kalimat konotasi atau kalimat tidak langsung. Bagaimana mungkin hati ini di jilbabi sedangkan hati letaknya didalam tubuh kita, lebih tepatnya pada rongga dada bagian bawah. kalau dijilbabi berarti jilbabnya nanti berdarah-darah dong? hahaha, bercanda!

Menjilbabi hati maksudnya menyiapkan mental terlebih dahulu sebelum benar-benar memakai jilbab secara fisik dengan cara memperbaiki perbuatan meliputi ucapan, sikap, pikiran, tingkah laku, ekspresi, emosi, cara berpikir, prasangka, dan lain sebagainya sehingga mencapai mental seorang muslimah sejati. butuh waktu yang sangat lama untuk mencapai hal tersebut, pasalnya, anak muda jaman sekarang mementingakan penampilan fisik seperti pakaian, model rambut, warna kulit, efisiensi pakaian, cuaca panas biasanya menghalangi tubuh terkena udara lebih banyak jika mengenakan jilbab, dan banyak faktor lainnya. Lalu mau menunggu berapa lama agar mental kalian siap mengenakan jilbab?

Ketika kalian shalat, perhatikan baik-baik shalat kalian merupakan shalat secara fisik atau secara batiniah? kebanyakan kita shalat secara fisik (wallahu'alam), namun hati ini sering kali kabur dari kekusyu'an shalat. Pada saat shalat, pikiran tiba-tiba melanglang buana ke meja makan, ke kampus, ke kamar mandi, ke rumah temen, ke buku resep masakan, ke masalah pertemanan, sulit rasanya memfokuskan hati dan pikiran untuk tetap berada pada tempat shalat. Untuk mengurangi hal tersebut maka kita harus membaca niat sebelum memulai shalat, berniat akan menjalankan shalat yang sebenar-benarnya shalat, bukan shalat secara fisik saja. Nah, aktifitas niat yang membantu kita mengurangi berkhayal saat shalat merupakan aktifitas fisik (lebih tepatnya verbal), fisik kita mengucapkan niat walau dalam hati. Hal ini tentu lebih mudah bukan?? jika dibandingkan dengan berlatih mental agar fokus dalam shalat baru melaksanakan shalat.

sama halnya dengan mengenakan jilbab. Fisik harus mendukung mental dan pikiran agar tetap terjaga. Bagaimana mungkin hati kita terjaga namun pakaian yang kita kenakan itu tidak menutup aurat? saya kasih ilustrasi lagi untuk menjelaskan bahwa keadaan fisik mempengaruhi mental. Misalkan kita berada di lokasi pernikahan seseorang, dimana pakaian kita terlihat sopan, mengenakan rok, dan busana sopan, tentu hati kita akan terbawa mengikuti apa yang kita temakan pada pakaian yang dikenakan. Ketika kita memakai rok tentu hati terasa sangat feminin dan menyambut orang lain pun dengan cara feminin. Namun ketika kita memakai pakaian bertema gembel (apa ya bahasanya??) hati kita akan terbawa seperti orang cuek dan pikiran kacau. Benar tidak?

Secara tidak langsung, gambaran permasalahan yang saya jelaskan diatas bermaksud menjawab pertanyaan "BERJILBAB itu HATI dulu atau FISIK dulu?" dan jawabannya adalah fisik dulu. Anda setuju?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Subhanallah. Postingannya bagus bgt. Setuju bgt sm postingannya. Smg manfaat ya. Amiiin

Posting Komentar