Tesis part #2

Semua orang pasti pernah mengalami, sedang membicarakan orang lain atau sedang di bicarakan oleh orang lain. Entah pembicaraan baik atau buruk, gosip atau fitnah, positif atau negatif.. apapun itu.

Atau mungkin.. pernah berada dalam suatu kelompok yang sering kali membicarakan orang lain dan kita mengetahui orang lain itu pun sedang membicarakannya. Berada di pihak mana kah kamu? Tak perlu di jawab..

Setiap orang berbicara dan membicarakan orang lain menurut persepsinya sendiri. Menuduhkan sesuatu sesuai dengan apa yang di rasakan entah itu hanya perasaan, fakta, intuisi atau hasil dari pendapat orang lain pula. Kenapa saya katakan "menuduh"? Yup.. karena pendapat itu tidak real kecuali berdasarkan data yang valid (*si penulis sukses nelen skripsi nih

pernah terpikir mengapa pendapat masing-masing orang bisa berbeda, dan bagaimana bila saya memposisikan diri menjadi orang yang sedang di bicarakan, apa rasanya, bagaimana situasinya, dan apa harapannya. Dan bagaimana pula bila saya berada di pihak yang paaaaaaaling netral.

Seakan-akan seperti angin yang memiliki kemampuan mendengar. Mengetahui pendapat ini, pendapat itu, tapi tidak merasakan emosional apapun yang di alirkan dari masing-masing pemberi pendapat. Hanya mendengar.

dari sanalah saya benci untuk membicarakan orang lain. Dan selalu ingin berada di pihak yang netral. Bisa saja yang satu membenci yang lainnya karna persepsinya dan yang lainnya pun sama. Tapi saya, selalu netral. Terdengar bodoh, memang.

Ibaratkan seperti ada seorang pencuri susu bayi. Begitu banyak orang yang membencinya, menghitung kerugian 1 kaleng susu yang di curi, melaporkannya, tanpa peduli kenapa ia mencuri. Bisa saja ia memiliki bayi yang sedang sakit, tak memiliki uang, tak ada orang yang bisa meminjamkan uang, tak ada yang peduli pula bila ia mengemis, dan dalam keadaan yang sangat terpaksa ia pun harus mencuri. Siapa yang harus di salahkan? Apakah si pencuri yang melakukan dengan cara yang salah padahal ada cara lain yang lebih baik dan halal, meskipun ia sangat terdesak untuk memenuhi kebutuhan bayi nya yang mungkin sedang sakit? Atau salah pemilik susu yang tidak bisa menjaga dagangannya dengan baik hingga merepotkan pihak keamanan untuk mencari si pencuri? Atau kah ini salah pemerintah yang gagal menyetarakan tingkat sosial masyarakatnya hingga terjadi hal seperti ini?

Semua boleh berpikir dan berpendapat sesuai dengan persepsinya masing-masing. Ada yang berpikir negatif, ada yang berpikir positif. Semua bebas sesuai pilihan pemikirannya..

Namun bagaimana dengan orang yang netral?

Tentu bila ada yang mengatakan jakarta itu kejam, saya berpikir bahwa ada yang lebih kejam dari itu. Yaitu pikiran.















  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar