9 November 2013 tepatnya di malam hari ketika saya dalam kendaraan umum TransJakarta, tak disangka saya kehilangan dompet baru saya beserta dengan isinya. 3 ATM hilang, uang sejumlah 300ribu, KTP dan kartu-kartu lainnya, dan yang paling terpenting adalah dompet. Dompet seharga 1,2juta, meskipun dibeli dengan diskon seharga 600ribu namun itu tetap menjadi dompet terbaik, terbagus, hasil jerih payah saya bekerja di Jakarta.
Jakarta bisa memperkaya saya, juga dapat memiskinkan saya. Karena pencopet. Saya rasa, banyak orang yang berpikir bahwa "kepada siapa saya harus berinfak ketika berada di jalan?" ada yang menjawab pengemis, namun banyak saat ini pengemis yang ternyata kaya, atau bahkan lebih kaya dari yang sedang berinfak kepadanya. ada juga yang mengatakan kepada pengamen, bisa kau lihat di Jakarta bagaimana penampilan pengamen saat ini, bisa dikatakan lebih keren dari saya yang bekerja di perusahaan swasta. Ternyata pengemis dan pengamen tidak senantiasa dapat menjadi fokus tujuan orang-orang berinfak.
Lalu kepada siapa kita harus berinfak? pertanyaan ini muncul sesaat ketika saya kehilangan benda berharga. Memang benar saya jarang berinfak, dengan asalan lain saya mengatakan karena itulah teguran Allah kepada saya. Namun apa yang sebenarnya terjadi?
Pencopet saat ini pun terlihat tak bisa dibedakan dengan orang biasa atau orang pada umumnya, berpakaian rapi, sopan, datang ke tempat-tempat umum yang berbayar meski tak terbilang mahal. Mencopet adalah keperjaan instan untuk mendapatkan sejumlah uang dengan keberanian, kelihaian, dan kesempatan waktu. Namun pencopet tak dapat dikatakan sebagai pekerjaan, dan akan lebih rendah nilainya dibandingkan dengan pengamen. Pengamen bekerja dengan suaranya dan "meminta" dengan ijin keiklasan dari pemberinya. Pekerjaan pengamen tentu lebih halal daripada pencopet. semua pasti berkata YA.
untuk kebutuhan apakah seseorang melakukan aksi tersebut? begitu banyak pertanyaan yang saya pikirkan. Dan hanya bisa mengiklaskan keadaan yang terpaksa.
Jakarta Kaya vs Jakarta Miskin
18.02 |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar