BLOOD IN ME

kalian punya pengalaman tentang darah?
pastinya punya... (maksa!) bangga diri

tanggal 23 adalah tanggal spesial bagi saya, namun tidak pada setiap bulan.. tetapi khusus pada bulan-bulan tertentu yang dijadwalkan untuk mendonorkan darah. Mungkin sedikit telat postingan saya ini yang seharusnya saya buat tepat pada tanggal 23 seusai pendonoran darah, namun terhambat dikarenakan adanya kesibukan si penulis, hahaha...

okey!
saya bernama xxxx, panggilan di sekolah/kampus adalah xxxxx, panggilan di lingkungan rumah adalah xxxxx dan yang ingin saya ceritakan adalah darah saya bergolongan O.. (hahhahaha, jangan kesel ya bacanya!! berguling di lantai ). Seperti yang kita ketahui bahwa golongan darah O dinamakan donor universal, dikarenakan darah O bisa di terima oleh semua jenis golongan darah. Atas dasar hal tersebut dan beberapa faktor pendukung lainnya, maka saya memberanikan diri untuk mendatangi gerai PMI di salah satu mall yang cukup terkenal, terletak dikawasan Bekasi.


23 Febuari 2011.
Tiga hari sebelumnya saya sudah mempersiapkan diri dan mental untuk mendatangi gerai PMI. Setelah menentukan hari yang tepat, saya mengajak teman dengan maksud menguatkan tekat yang sudah saya bangun. Ada beberapa orang yang tertarik.. namun tetap saya sendiri yang berangkat menuju gerai PMI tersebut, nasib! ngambek.

Pagi hari yang cerah, sarapan pukul 5:45am dan berangkat menuju kampus pukul 06:00am. Menjalankan aktifitas seperti biasa di kampus dan YUUUPS!! saya paling malas makan di kampus, walaupun laper melanda dan sampai maag kambuh, kecuali ada teman yang mengajak makan hi..hi..hi. Sore itu saya langsung meluncur ke lokasi pengambilan darah.. namun sebelumnya saya sempatkan membeli roti bicara sebagai bekal perjalanan dari lantai dasar ke lantai paling atas tempat gerai PMI tersebut, karena salah satu syarat donor darah adalah harus makan dulu. dan YUPPPSS!! lagi-lagi bekal roti itu tidak saya makan, malas rasanya jika mengunyah makanan sambil berjalan. Perasaan saya saat itu kurang yakin, bagaimana tidak? Kepala terasa pusing, maag yang tadinya kambuh sudah hilang sendiri, dan tak ada seorang pun yang menemani, namun tetap saya perjuangkan niat baik saya dan masuklah saya ke gerai tersebut.

Persyaratan pertama sudah saya penuhi, yaitu berat badan cukup (lebih tepatnya kelebihan tertawa), jadwal menstruasi tidak berdekatan harinya dengan keinginan saya saat itu untuk mendonorkan darah, serta saya menandatangani form pendaftaran. Pemeriksaan selanjutnya oleh dokter yang saya curigai dia bukan dokter, tetapi salah satu orang dari PMI. Dokter perempuan itu sempat menanyakan "sudahkan kamu makan" saya menjawab dengan mantab "SUDAH" sambil berbisik lirih "jam 6 pagi dok", saya pikir ini bukanlah suatu masalah besar, karena saya memang jarang sekali makan siang, lalu pemeriksaan golongan darah, tensi dan hemoglobin, yang keseluruhan hasilnya adalah saya diizinkan untuk mendonorkan darah. Kemudian tahap yang ketiga adalah mensterilkan tangan dari kuman-kuman seranggasetanayamsapibabimonyet, yaitu dengan mencuci tangan. Setelah itu pengambilan darah berlangsung dengan menggunakan kantong darah 250cc, entah kenapa saya berubah jadi manusia super bawel saat itu.. untungnya sepi, mungkin karena ketidaksiapan saya saya tidak tahu.

Apa yang saya rasakan setelah mendonorkan darah?
tidak ada.. hanya sakit sedikit di bagian jari akibat tusukan jarum saat mengecek golongan darah, namun tusukan jarum donor tidak membuat tangan saya sakit, padahal jarumnya lebih besar. okeeeeyy..  dengan ini saya menyatakan kesediaan saya untuk datang kembali pada jadwal donor darah selanjutnya.

------- Donor darah selanjutnya. berdoa

23 Mei 2011.
Sama seperti pada hari pertama donor darah, saya menuju ke gerai PMI tanpa makan siang, namun saya di temani oleh teman kampus yang bernama Nisa, lebih tepatnya teman satu divisi Kominfo (Komunikasi dan Informasi) dalam BEMF.Psi 2010-2011. hanya berdua.. yaa berdua.. Urutan persyaratan sudah saya lengkapi namun teman saya tidak diizinkan untuk donor dikarenakan berat badannya kurang.

Ada saat-saat yang sedikit saya curigai saat pemeriksaan sebelum pendonoran berlangsung, yaitu hemoglobin saya dinyatakan pas-pasan atau dalam batas terendah namun tetap diperbolehkan untuk donor, saya pikir hal itu dikarenakan jadwal menstruasi yang sangat berdekatan dengan jadwal donor saat itu, dan lagi-lagi saya menjawab dengan mantab ketika ditanya apakah sudah makan, "SUDAH".

Sesaat sebelum donor darah, Nisa mengatakan bahwa kantong darah yang saya gunakan untuk donor adalah 350cc, langsung saya tercengang terhipnotis, kaget terkejut, mau kabur dari tempat donor tidak mau lihat, panik ketakutan, dikarenakan saya pernah mendengar cerita dari sahabat saya yang bernama Rini tentang ayahnya yang masuk rumah sakit akibat mendonorkan darah 350cc. Begitu dokter datang dan memasang peralatan donor, jiwa bawel saya muncul dan kali ini saya lebih bawel dari hari pertama donor.

Revi : Dok, saya pake kantong darah 350cc ya??
dokter : iyaaa..
Revi : Serius dok?? yang 250cc aja deeehh yaaa??
dokter : 350cc aja gak apapa ko, ini aslinya ga nyampe 350cc, kan di tambah berat kantongnya sendiri.. paling isinya 300cc
Revi : tapi dok?? yang kmaren saya make 250cc... cemas
dokter : kantong 250cc lagi abis, pake 350cc aja gak apapa ya..
Revi : yaaaahh..... (sambil di tusuk jarum donor)

sesaat setelah donor, terlihat jam sudah menunjukkan pukul 17.30 dan tampak petugas donor menggendong tas ransel seraya ingin pulang, namun masih menunggu saya berdiri dan pamit pulang. Beranjak dari gerai PMI, tidak ada perubahan yang terjadi, kemudian saya bersama Nisa pergi ke hypermart untuk menemani saya membeli yogurt. Saat itu mall agak ramai pengunjungnya, namun saya tidak harus mengantri panjang ketika ingin membayar belanjaan. Sampai pada meja kasir, penglihatan saya mulai kabur, bukan karena saya sedang tidak menggunakan kaca-mata, namun kabur yang saya maksud adalah pandangan menjadi berubah (yang pernah ngerasain pingsan pasti tau), sekeliling berwarna hijau, kuning, saat itu saya masih sempat mengeluarkan dompet dari dalam tas saya, namun...............

saya tidak kuat lagi berdiri, langsung saja saya serahkan dompet saya kepada Nisa, dan Nisa yang sedari-tadi duduk akhirnya terpaksa berdiri dan membiarkan saya duduk, bawaan saya cukup berat saat itu dengan tas berisi LPJ (Lembar Pertanggung Jawaban) dan Laptop. Penglihatan menjadi gelap total, untungnya saya sudah dalam posisi duduk, tas saya jatuhkan, dan saya langsung menunduk memegangi dahi, tak kuat menahan beban apapun, bahkan saat duduk saya hanya bisa membungkukkan badan, lemas sekali rasanya, namun saya masih sadar. Sapaan tajam yang menyadarkan saya, oleh kasir yang berada di tempat saya duduk "MISI MBAK! Jangan di sini".. langsung saya berdiri dan jongkok kembali, tanpa malu tapi saya yakin Nisa malu tertawa (maaf ya kawan, aku merepotkan mu sedih).

Sepertinya aktifitas belanja-bayar yang dilakukan Nisa sudah selesai, dan bangku yang tadi saya duduki diambilkan Nisa agar saya tidak mengalingi orang berlalu-lalang. Terdengar pembicaraan singkat antara Nisa dan kasir.. ".......??" saya tidak mendengar jelas apa yang dikatakan oleh kasir tersebut dan Nisa menjawab "Ini mbak, temen saya abis donor tadi..". Saat itu pandangan masih gelap, Nisa asik menceritakan keadaan saya dengan orang sekitar, saat itu saya memanggil-manggil Nisa namun tampaknya Nisa yang berjarak hanya dua jengkal dari tempat saya duduk tidak mendengar teriakan saya, entah tidak mendengar, atau teriakan saya yang tidak mengeluarkan suara karena saat itu saya sangat lemas.. yaa, tidak ada tenaga sedikitpun dan masih saja saya membungkukkan badan. Akhirnya usaha saya berteriak sia-sia, dan saya bersyukur ketika Nisa mensudahi pembicaraannya dan mulai mengajak saya bicara, "Rev, lo pucet bangettt, mau makan dulu apa? ke KFC ya??" saya yang masih ga kuat dan sebenarnya saat itu agak bingung dengan pertanyaan berentet (pertanyaan yang tanpa henti, padahal cuman sedikit pertanyaannya) karena kemampuan menjawab pertanyaan itu sangat sulit, lalu saya mengatakan "engga Nis, ga laper", buru-buru saya membuka plastik pemberian dari donor darah yang isinya ada obat penambah darah, langsung saja saya minum.

Belum hilang rasa lemas yang saya rasakan, namun pandangan saya sudah lumayan membaik walau masih tampak gelap dan wajah orang belum dapat saya pahami bagaimana bentuknya. Langsung saya dituntun Nisa ke KFC, tempat makan terdekat, namun ternyata penuh, dan akhirnya saya duduk di J.CO, terpikir ingin membeli J.Cool kesukaan tapi yaaaaassshhhh, ga mungkin karna badan lemas masa' makan es krim. Hingga pukul 19.30 saya pulang, penglihatan masih belum pas (masih seliweran, ga bisa fokus).

Setelah itu saya langsung menceritakan kejadian ini kepada sahabat saya, Rini. Yaaaaaaassshhhh nasib, dilarang untuk mendonorkan darah di tempat itu lagi, memang demi keselamatan jiwa saya juga. Namun memang pada awalnya saya berencana untuk berpindah-pindah tempat dikarenakan keinginan saya menambah tulisan pada kartu donor dengan tempat yang berbeda-beda tersenyum lebar.

Donor selanjutnya bulan Agustus, semoga hal ini tidak membuat trauma pada saya beserta teman-teman saya dan ingat selalu pesan Nisa-Rini "Jangan sampai darah yang sudah di donorkan harus masuk lagi ke badan saya" hehehe... makasih sob, love u so much!! peluk eratpeluk eratpeluk eratpeluk erat Pelajaran yang saya ambil adalah setiap kali ingin mendonorkan darah, WAKUHAMI (Wajib, Kudu, Harus, Mesti) makan dulu.tersenyum lebar


Setelah saya ceritakan semua kejadian tersebut, terpikir oleh saya mengenai perbuatan aneh "dokter" yang saya curigai dia adalah orang PMI.. why?
pertama, sambutan yang kurang hangat saat memasuki ruang pemeriksaan tensi dan hemoglobin, sehingga harus saya yang banyak bertanya mengenai tittle dokter yang dia miliki. (lulusan mana?, tahun kapan?, pengalaman donornya gimana?, dan lain sebagainya).
kedua, informasi yang sangat kurang mengenai pengambilan darah, saya tidak diberitahu terlebih dahulu jika saya akan mendonorkan darah sebanyak 350cc.
ketiga, saya tidak bodoh, saat dinyatakan oleh "dokter" bahwa donor 350cc tidak pas 350cc tetapi hanya 300cc karena di tambah berat kantong itu sendiri.. padahal yang saya tau 350cc adalah berat isi kantong darah.
keempat, kantong darah 250cc habis, tentu tidak masuk akal jika PMI kehabisan kantong darah. berpikir
kelima, dengan hemoglobin yang pas-pasan (batas teredah untuk mendonorkan darah) saya dipaksa menggunakan kantong darah 350cc.. are u killing me, dok?? menyerah

Hal-hal tersebut yang menguatkan dugaan Rini dan saya bahwa mereka malpraktek. Maaf jika saya salah, namun sudah semestinya si pendonor mendapatkan informasi lengkap mengenai prosedur donor darah, mengenai identitas pemeriksa, dan darah saya akan disalurkan kemana. Namun semua itu saya dapat karena saya yang aktif bertanya (alias bawel nanya mulu bingung).

Untuk kalian yang ingin mendonorkan darah, saran saya... jangan langsung pasrah yaa saat darahnya ingin di ambil, kita berhak mengetahui mengenai prosedur pengambilan darah, identitas pemeriksa dan lain sebagainya agar terhindar dari kecurangan atau bahkan bisa jadi darah yang anda donorkan harus berbalik lagi ke tubuh anda. Bawel itu perlu cerewet.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Madhek Blog mengatakan...

Wat yang mau donor darah! ... asal cuuantik ! ... aku siap menghisapnya ..... wkwkwkwkwk

BUKAN VAMPIR

Dunia Mimpi mengatakan...

hahahaaha.. kasian doong yang jelek ga bisa ikutan donorin daraah :D
btw, Madhek join doong di blog ini, tinggal klik link "join this site" yang ada di paling bawah blog ini ^^

Posting Komentar